Bulan Hujan; Tentang Tata Ruang dan Kebencanaan

Admin, Published at 2021-10-03

Sumber: Photo By Aw Syaiful Huda

"Mendung tanpo udan. Ketemu lan kelangan. Kabeh kuwi sing diarani perjalanan". Mungkin telinga kita belakangan ini sering familiar dengan lirik lagu, "Mendung Tanpo Udan", yang digubah oleh Kukuh Prasetya, kemudian dipopulerkan oleh Ndarboy Genk ini.

Ya. Mendung dan hujan adalah dua entitas, yang dalam waktu-waktu tertentu keduanya sering bertemu, bersama-sama dalam satu kerumunan. Namun dalam waktu-waktu yang lain, keduanya nampak tidak kompak. Mendung berjalan sendiri, sementara hujan entah ke mana rimbanya.

Hubungan mendung dan hujan seringkali nampak romantis, seperti dilukiskan oleh Sapardi Djoko Damono; "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat disampaikan awan (mendung) kepada hujan, yang menjadikannya tiada."

Jika saat ini kita sering menjumpai mendung dan hujan bertemu-bersama, menautkan rasa rindu yang tertahan dalam beberapa purnama, hal ini berarti pertanda memasuki musim hujan, yakni musim yang akan sering mempertemukan mendung dan hujan . Karena itu berlaku ungkapan, "Jika dua insan sedang memadu kasih, maka yang lain ngontrak". Jika mendung dan hujan sudah sering bertemu, maka kita manusia, harus bersiap-siap 'terusir', konsekuensi status sebagai 'pengontrak' saja.

***
Musim hujan adalah musim yang ditunggu-tunggu para petani. Ini karena jenis pertanian mereka banyak yang masih sistem 'tadah hujan' alias masih bergantung dengan musim hujan. Saat musim hujan tiba, para petani akan mulai menggarap lahan, menanam berbagai jenis tanaman, merawat hingga panen tiba.

Saat musim hujan tiba, selain membawa keberkahan dan kesuburan tanah, tak menampik juga adanya fakta, bahwa di musim hujan seringkali terjadi bencana, baik bencana alam maupun non-alam. Bencana alam seperti longsor, banjir bandang, angin puting beliung, dan lain-lain. Sedangkan bencana non-alam, seperti korsleting listrik yang menimbulkan kebakaran atau lainnya.

Banjir adalah salah satu jenis bencana di Bojonegoro yang selalu terjadi di musim hujan, mungkin sebab itu ada warga yang menganggapnya tradisi bencana di kala musim hujan tiba.

Terkait istilah 'bencana alam', ada pandangan berbeda, yang membantah bahwa sebenarnya tidak ada bencana alam. Jika terjadi bencana karena faktor alam itu sebenarnya karena alam sedang mencari keseimbangan. Pandangan ini muncul sebagai bentuk kritik karena bencana alam seringkali dijadikan dalih untuk lari dari tanggungjawab.

Apalagi jika ditelusuri lebih jauh, banyak peristiwa yang dikategorikan sebagai jenis bencana alam, ujung-ujungnya ternyata terjadi akibat ulah manusia yang merusak lingkungan, sehingga menyebabkan krisis iklim dan bencana ekologi.

Bencana terjadi juga akibat pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan, dalam hal ini termasuk terkait penataan ruang dan wilayah (kawasan). Misalnya, terdapat kawasan yang semestinya berfungsi sebagai kawasan lindung. Namun pada prakteknya, kondisi kawasan lindung ini sudah tidak lagi menunjukkan fungsi kawasan lindung, kondisinya cukup memprihatinkan. Hutannya dibabat, luasan tanaman tegakan di kawasan hutan dan daerah aliran sungai (DAS) semakin minim.

Berangkat dari problem tata ruang dan wilayah serta fenomena kebencanaan di daerah inilah, kegiatan kelas diskusi "Kampus Terbuka" akhirnya memilih mengangkat tema, "Bulan Hujan; tentang Kebencanaan dan Tata Ruang", sebagai bahan kajian dan diskusi di angkringan Kopi Tani, pada Sabtu kemarin (2/10/2021).

***
Salah satu pegiat kelas diskusi, Aw Syaiful Huda, mengungkapkan bahwa populasi penduduk terus meningkat, sehingga pemenuhan kebutuhan hidup ikut meningkat pula, utamanya meliputi kebutuhan ekonomi, pemukiman, kebutuhan energi serra kebutuhan akan pemenuhan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Sementara itu, luasan ruang dan wilayah tetap, tidak bertambah, bahkan bisa berkurang karena faktor bencana, seperti tanah longsor dan erosi. 

"Terbatasnya ruang wilayah pada satu sisi dan adanya peningkatan populasi penduduk dengan tingkat kebutuhan yang terus berkembang pada sisi yang lain, hal ini menyebabkan terjadinya 'perebutan ruang' yang didasari beragam kepentingan, termasuk kepentingan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat," kata Awe, panggilan akrabnya.

Awe menjelaskan, perekonomian Bojonegoro ditopang oleh sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, jasa dan lain sebagainya. Pertanian masih menjadi sektor ekonomi basis masyarakat Bojonegoro karena mayoritas warga bekerja di sektor ini, baik sebagai petani maupun buruh tani. Ini memungkinkan adanya kebutuhan memperluas kawasan pertanian, apalagi mengingat kebutuhan pangan semakin meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk.

"Demikian sektor ekonomi yang lain, bisa jadi juga membutuhkan menambah luas kawasannya. Seperti sektor industri, perumahan dan hotel. Sehingga ada kawasan yang bakal tergerus oleh kawasan yang lain. Dan fakta selama ini, memang kawasan pertanian lah yang banyak beralih fungsi jadi kawasan perumahan dan industri, " ungkap Awe.

Oleh sebab itu, menurut Awe, publik perlu mengetahui dan mengawal kebijakan tata ruang dan wilayah, untuk memastikan arah pembangunan di daerah berpihak pada masyarakat basis, mengarah pada pembangunan berkelanjutan, yang berwawasan ramah lingkungan, sebagaimana etika lingkungan.

"Penataan ruang juga perlu memperhatikan nilai kearifan lokal, seperti nilai-nilai falsafah Jawa mengenai lingkungan dan penataan ruang," ujarnya.

Almaliki Ukay Subky, salah seorang pegiat "Kampus Terbuka", juga memberikan beberapa pandangan mengenai konsep pembangunan, terutama yang berkaitan dengan penataan kawasan dan penanganan kebencanaan yang sering terjadi di musim hujan.

Menurut Malik Ukay, nama panggilannya, hujan yang berbuah bencana, bukan karena faktor hujannya sekarang berbeda, tapi bisa jadi karena bumi yang menampung hujan lah yang berubah. Sehingga yang seharusnya hujan menemukan jalannya, malah tersesat ke dalam kota dan menjadi banjir. Hujan yang turun di wilayah tinggi, turun menjadi banjir bandang dan longsor.

"Hujan menjadi momen indah saat airnya bisa mengalir melalui jalur yang teratur. Hujan yang diserap akar pohon dan disimpan menjadi air tanah. Hujan yang sekaligus memberi suplai air bagi para petani," kata Malik, sambil beberapa kali membenarkan letak kaca matanya.

Menurut pria yang hobi baca buku ini, kebijakan pembangunan, termasuk meliputi penataan ruang dan wilayah perlu mengarah pada konsep sustainable communities. Secara sederhana, konsep ini menawarkan paradigma penataan wilayah berdasar "3 E (three E)", yakni Economic (berdampak ekonomi), Environmental (berwawasan lingkungan) dan Equitabilty (kesetaraan).

"Pemerintah yang sadar akan pembangunan berkelanjutan, tentu memahami konsep ini. Menata wilayah dengan mengedepankan pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan inklusif terhadap semua kelompok. Termasuk ramah untuk perempuan dan difabel," jelas Malik.

Selain itu juga, ia menekankan bahwa menata wilayah bukan melulu soal infrastruktur. Karena kawasan yang baik adalah yang nyaman untuk ditinggali (livable). Lingkungan yang sehat dan menyehatkan. Tempat tinggal yang mampu membangkitkan kebahagiaan bagi warganya.

"Melihat ada pergeseran paradigma pembangunan di beberapa negara di dunia. Negara Amerika Serikat, yang selama ini dinilai sebagai negara adikuasa, untuk nilai indeks kebahagiaan warganya, saat ini tertinggal jauh, salah satunya, dengan negara Firlandia," ungkap Malik, bercerita.

Intan Setyani, salah seorang aktivis perempuan yang hadir dan berpartisipasi dalam kelas diskusi memberikan beberapa catatan terkait persoalan penataan ruang dan wilayah di Kabupaten Bojonegoro.

Menurut Intan, panggilan akrabnya, perempuan dan alam memiliki pengalaman yang sama menjadi korban penindasan dan eksploitasi. Dampak kerusakan lingkungan pun saat ini mulai dirasakan oleh semua kalangan. Suhu dan cuaca ekstrem, berdampak pada kesehatan seseorang, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan.

"Kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan lah yang paling banyak menjadi korban ketika terjadi bencana alam," kata Intan.

Ia mencontohkan, kondisi perempuan tidak selalu prima karena diantara, perempuan mengalami siklus menstruasi dan hamil, yang ini tidak dialami oleh laki-laki. Sehingga ketika terjadi bencana ataupun krisis iklim maka akan lebih banyak dirasakan oleh perempuan dan kelompok rentan lainnya, seperti anak-anak dan disabilitas.

Sementara itu Putut Prabowo, pegiat aktivis lingkungan, memaparkan kondisi kawasan hutan lindung dan daerah aliran sungai yang ada di Bojonegoro. Berdasarkan pengamatannya, kondisi hutan lindung dan daerah aliran sungai di Bojonegoro mengalami kondisi yang cukup kritis karena tutupan vegetasi hutan dan daerah aliran sungai semakin minim. Akibatnya ketika terjadi hujan deras, maka kawasan tersebut berpotensi mengalami longsor dan erosi.

"Rehabilitasi tutupan vegetasi hutan dan daerah aliran sungai saat ini cukup mendesak. Perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak, terutama para pemangku kebijakan," ungkap Putut, penuh pengharapan.

*Ditulis oleh Tim notulen kegiatan kelas diskusi "Kampus Terbuka".

Share Link: